Rabu, 21 Januari 2009

Kisah Duka Seorang Hamba Allah

DUA hari yang lalu, istri saya bertemu dengan seorang Ibu yang menjadi guru PAUD di daerah Perumnas Klender, dengan berlinangan air mata ia berusaha menceritakan semua yang dialaminya dalam tahun-tahun terakhir ini. Kami semua akrab dengan Ibu ini, karena dia pernah menjadi guru ngaji anak saya.

Berawal dari tekanan orang tua, untuk keluar dari rumahnya, dan hidup yang kurang beruntung karena berlatar belakang ekonomi kurang mampu, akhirnya mereka putuskan untuk hidup terpisah dari orang tua, dengan menyewa rumah petak di daerah Klender. Suaminya bekerja sebagai pegawai sebuah bengkel motor, yang pendapatannya sangat bergantung dari berapa banyak motor yang ia tangani, sementara untuk menutupi kekurangan biaya sehari-hari, ia bekerja sebagai guru ngaji di TPA.

Dikarenakan TPA ini adalah milik perseroangan, maka manajemen yang diterapkan adalah “manajemen keluarga”, selama membawa keuntungan untuk keluarga, maka dukungan akan diberikan. Jika tidak membawa keuntungan untuk keluarga, terutama materi, maka dukungan akan ditarik, bahkan pemecatan sepihak menjadi kartu yang selalu digunakan untuk menghentikan protes.

Dua tahun yang lalu, Ibu ini datang ke rumah, untuk pamit pindah ke Bekasi. Bertekat merubah nasib bersama suami di Bekasi dengan membuka bengkel seadanya. Malang tak dapat ditolak, usaha baru buka 6 bulan, dan tanda-tanda perubahan menuju kebaikan mulai terlihat, sang suami ditabrak mati oleh orang yang sampai sekarang tidak mau bertanggungjawab. Dengan berat hati, dan menebalkan muka, ia kembali ke rumah orang tua. Memulai hidup baru dengan status perkawinan yang baru, janda dengan 2 anak.

Dalam keluarga yang tidak beruntung, numpang tidur saja sudah menjadi masalah besar, apalagi numpang makan, maka dengan seluruh sindiran yang ia terima, dia paksakan untuk tinggal bersama. Sambil mencari pekerjaan disana-sini, dengan berbekal ijazah D1 PGTK. Akhirnya diterima di salah satu PAUD yang sekarang sedang menjamur dimana-mana, dengan gaji Rp. 150.000,-/bulan, tanpa tunjangan apa-apa. Untuk menutupi kekurangan, membantu mengajar ngaji di TPA dengan gaji Rp. 100.000,-/bulan, juga tanpa tunjangan apa-apa.

Cukupkah hidup di Jakarta dengan uang Rp. 250.000,-/bulan? Untuk 3 orang, 1 orang Ibu dan 2 orang anak dengan usia 6 tahun dan 2,5 tahun. Akhirnya, dengan paksaan yang cukup menghinakan, anak pertama diambil oleh neneknya, dengan sindiran untuk hidup lebih layak, dan takut cucunya tidak dapat sekolah dengan baik.

Pagi ini kita berjumpa lagi, ia menambahkan cerita yang kemarin, latar belakang hidupnya, keluarga suaminya dan harapan terhadap hidup yang lebih baik. Rasanya, jika tidak percaya akan adanya Allah, mungkin sudah lama ia mengakhiri hidupnya. Karena dua alasan ini, ia masih mau bertahan hidup, Allah dan anaknya.

Saya ditampar oleh kenyataan, ditengah gegap gempitanya orang hidup, mencari kemewahan, mencari tambahan yang bukan lagi untuk hidup cukup, tapi foya-foya. Sementara datang kepada saya, seorang yang didepan mata, dan saya yakin pasti ada di sekeliling kita, mengharapkan belas kasihan, tapi malu untuk meminta. Bertahan hidup dengan kelaparan, hinaan dan ketidak-berartian hidup. Masihkah kita berani berkaca, dengan mengatakan kita telah “berislam” dengan baik.

Tergambar dalam pikiran saya, sanggupkah kita menjalankan kehidupan seperti dirinya. Berusaha hidup layak dengan ketidaklayakan pendapatan. Rp.250.000,- untuk bertahan hidup, ditengah kebutuhan susu dan gizi untuk pertumbuhan anaknya.

Kita mengajarkan mereka untuk mencuri, karena kita membiarkan mereka hidup dibawah kemelaratan yang tak terperi. Khalifah Umar bin Khattab pernah tidak menghukum orang yang mencuri, karena dia tidak punya apa-apa. Bahkan Umar akan menarik harta orang yang kaya untuk orang yang miskin di sebelahnya, nabi pun pernah bersabda: “Bukanlah dari golonganku, jika ia tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan”

Dimana letak sempurnanya Islam, jika kita hanya mengaji pada tataran ilmu, tidak mengimplementasikannya di dunia, membumikan pengetahuan agama kita, merangkul saudara kita, merasakan kesedihan mereka, ikut merasakan penderitaan mereka. Bukan dengan ucapan belaka, bukan dengan data statistik yang dimanipulasi, tapi dengan uluran tangan, membuka kedua tangan kita untuk menerima mereka.

Bahayanya dalam masyarakat kita, memandang seorang janda, sebagai pengganggu kehidupan keluarga yang lain, sehingga mereka dikucilkan, sementara mereka pun memiliki anak, anak yatim, yang nabi titipkan kepada kita dan diperkuat dalam Al-Quran. Anak mereka menjadi sulit untuk diasuh karena kita, karena kita telah menyudutkan mereka, menyudutkan orang yang tidak memiliki bapak, dengan memberikan label anak nakal, dengan label anak sulit diatur.

Mereka menjadi anak yang sulit diatur karena mereka kehilangan kendali, mereka mencari keseimbangan yang tidak ia terima, karena hilangnya satu sandaran mereka. Jangan diperburuk dengan tudingan miring kepada mereka.

Sempurnakan keislaman kita, jadikan Islam memang menjadi rahmatan lil ‘alamin, dengan menerima mereka, dengan merangkul mereka dan mendengarkan seluruh derita mereka, kemudian bantu mereka.

Jika kita merasa risih dengan keberadaan mereka, dan tidak terketuk untuk meringankan derita mereka, maka sudah selayaknya kita mengevaluasi diri kita.

Ketika kami berpisah, dan saling memberikan doa. Satu lagi pelajaran yang nyata telah Allah hadirkan dihadapan kami. Bukan untuk dihindari, tapi dihadapi.

nb. Untuk seorang yang melangkah dengan segunung kesabaran

Wallahu al-Musta’an

M. SUJA’I ANHAR

Artikel ini dimbil dari : "http://public.kompasiana.com/2009/01/06/kisah-duka-seorang-hamba-allah/"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar